Pages

16 May 2016

Ibnu Sina, Dokter yang Berdzikir


dari buku kisah ashabul kahfi

Dunia Islam memang banyak melahirkan tokoh-tokoh brilian dan penuh kontroversi. Ibnu Sina (980-1037) adalah salah seorang tokoh Muslim terkemuka yang masuk kategori ini. Ia menulis 450 naskah sepanjang hidupnya. Dunia barat menghormati dan mengenalnya sebagai Avicenna. Menurut pengakuannya, ia berhasil menguasai hamper waktu yang paling singkat di antara disiplin ilmu yang ia pelajari. Usianya ketika itu baru 16 tahun dan banyak ahli kedokteran berguru kepadanya. Bukunya, Al-Qonnun Al-Tibbiyyah (Prinsip-prinsip kedokteran)- yang menjadi buku pegangan di Eropa sampai abad ke-17, diselesaikan saat baru berusia 20-an. Namun, jangan sangka ia menjadi salah seorang genius muslim par-excellence-yang tak tertandingi di dunia Barat dan Timu-tanpa kerja keras

Kerja kerasnya bahkan di luar yang kita bayangkan. Berikut penuturannya sendiri lewat salah seorang sahabat dekatnya, Abdul Abid Al-Juzjani, yang setia mendampinginya selama 25 tahun

“... Ketika aku mengalami kebingungan tentang suatu masalah dan tak menemukkan jalan tengah dalam analoginya, aku segera bergegas ke masjid untuk shalat dan memohon bimbingan kepada Sang Maha Pencipta semesta agar membuka semua yang terkunci dan memudahkan perkara yang sulit. Aku biasa pulang ke rumah malam hari dan meletakkan lampu di depanku, lalu membaca dan menulis. Jika rasa kantuk dan letih yang sangat menyerangku aku meminum ramuan untuk memulihkan kekuatan dan semangatku untuk melanjutkan membaca, Sering saat tertidur karena keletihan membaca, aku bermimpi tentang masalah-masalah yang aku baca dan menemukan pemecahan mereka justru dalam mimpi itu. Demikianlah sehingga aku menguasaai banyak ilmu karena usaha keras yang dibolehkan oleh batas-batas kemampuan manusiawi.

Apa-apa yang aku ketahui pada saat itu tidaklah akan bertambah saat ini sekiranya aku tidak mempelajari dan menguasai ilmu logika, ilmu alam, ilmu riyadhi, dal al-Ilaahi. Aku lalu membaca buku Metaphysic karya Aristoteles, tetapi sama sekali tak mampu memahami isi dan maksud pengarangnya. Karena penasaran, aku mengulangi membacanya sampai 40 kali hingga hafal di luar kepala. Namun, aku tetap saja tidak berhasil memahami kandungannya. Karena frustasi, aku sampai bergumam dalam hati, Tak ada jalan untuk bisa memahami buku ini (haadza al-kitaaab laa sabiila ilaa fahmih)

Suatu sore, ketika dating waktu asar, aku berkunjung ke sebuah toko buku dan tampak olehku sebuah buku. Penunggu took menunjukannya kepadaku dan kulihat secara sekilas dan berkeyakinan kalau buku itu tak berguna bagiku. Namun, si penunggu took bilang, ‘Buku ini murah, sebaiknya Anda beli’. Aku putuskan membelinya dan ternyata buku itu buah karya Abu Nasr Al Farabi yang mengomentari kita Metaphysic milik Aristoteles yang aku tak paham-paham isinya. Karena tak sabar ingin tahu isinya, aku segera pulang dan membaca habis buku itu dalam sehari, hari itu juga. Maka, saat itu juga terbukalah semua kepelikan yang aku temui dalam kitab itu karena aku memang telah hafal lafalnya di luar kepala. Oleh karena itu,  aku diliputi suka cita yang sangat dalam dan sebagai rasa syukurku kepada Allah SWT, aku memberikan sedekah yang banyak kepada para fakir miskin pada esok harinya”

Dari kisah diatas, kita bisa mengambil pelajaran bahwa kehebatan Ibnu Sina itu bukan saja karena kerja keras yang luar biasa, tetapi juga karena kealimannya untuk pergi ke masjid di saat merasa otaknya buntu, serta gemar bersedekah. Bahkan dikabarkan bahwa Ibnu Sina khatam membaca Al Qur’an setiap tiga hari sekali sampai ia wafat.
 

No comments:

Post a Comment