Pages

07 December 2017

Lingkaran Pertemanan


Teman, apa itu teman?
Semakin dewasa definisi teman semakin sempit kan?
Kalau dulu saat SD teman itu orang yang bisa diajak main, sepedaan, dan ciye-ciyein orang, semakin dewasa definisi teman sekarang berubah.
Teman mungkin adalah orang yang menemani saat suka dan duka, teman seprinsip hidup, dan teman yang gak akan nyuekin saat di kondisi terburuk.
Apa sudah bisa membedakan antara sahabat, teman, dan kenalan?

Akhir-akhir ini pasti sering kan mendengar istilah panjat sosial atau social climber. Apa itu?
Social Climber merupakan istilah yang digunakan untuk orang yang mencari pengakuan sosial yang lebih tinggi dari kondisi atau status yang sebenarnya.

Hati-hati zaman sekarang
Banyak orang berteman punya maksud tujuan
Mengumbar kedekatan dapetin keuntungan
Abis manis lo dibuang

Dari penggalan lirik tersebut dapat dijadikan bahan renungan, apakah pertemanan sekarang sudah jauh dari ketulusan?

Mari diingat kembali definisi pertemanan itu sendiri 😊!

Pertemanan adalah suatu tingkah laku yang dihasilkan dari dua orang atau lebih yang saling mendukung. Pertemanan dapat diartikan pula sebagai hubungan antara dua orang atau lebih yang memiliki unsur-unsur seperti kecenderungan untuk menginginkan apa yang terbaik bagi satu sama lain, simpati, empati, kejujuran dalam bersikap, dan saling pengertian (Irwan Kawi, 2010).

Ketergantungan pada teman sebaya lebih mengarah pada hal-hal yang berkaitan dengan relasi sosial atau penerimaan lingkungan (misalnya tingkah laku/kebiasaan sehari-hari, kesukaan, aktivitas yang dipilih, gaya bahasa dan lainnya). Berbicara soal teman pasti akan membahas gengsi sosial. Gengsi memang tidak bisa dipungkiri selalu membuat kita berpikir dua kali untuk memulai suatu hal. Gengsi sosial menjadi daya tarik dan ketergantungan pada hubungan pertemanan.

Namun, hubungan pertemanan akan semakin berkurang sesuai dengan bertambahnya kematangan karena remaja semakin ingin menjadi individu yang mandiri dan unik serta lebih selektif dalam memilih sahabat.
Remaja yang berasal dari keluarga yang terlalu hangat, memberikan perlindungan dan keamanan secara berlebihan, melibatkan emosi yang sangat kuat cenderung memengaruhi remaja menjadi malas menjalin ikatan lain di luar keluarga atau mengalami kesulitan dalam berinteraksi di lingkungan selain keluarganya. Umumnya remaja ini lebih senang menyendiri atau bergaul dengan orang-orang tertentu saja, ada juga yang menjadi minder dan sulit berinteraksi dengan sebayanya.

Semoga sedikit pandangan ini menjadi refleksi kita apakah kita sudah menjadi sebaik-baiknya teman untuk orang di sekitar kita.

Terima kasih dan selamat berteman !


Calon dokter yang sedang berjuang di Quarter Life



26 November 2017

Kebahagiaan

Hi..
Kebahagiaan itu apa?
Saat SD dulu bisa ngeprint warna
Saat SMP dulu bisa internetan unlimited di rumah
Saat SMA dulu bisa tiap minggu ketemu bapak/ibu
Saat Kuliah mungkin bisa...
Apa ya?

mungkin ada obral buku murah di G atau T.

Seiring bertambah usia kenapa bahagia jadi semakin sederhana.
Memang, hidup tentram jadi harapan setiap hari.

15 January 2017

TENTANG IMPIAN


Hari ini aku tak ingin berpikir sempit lagi. Mulai berpikir dewasa, bijak, dan fleksibel. 
Kalau gagal ya bangkit lagi. Kalau gagal lagi, ya ulang terus sampai berhasil.
Kalau nanti toh impianku tidak tergapai ya sudah mulai siapkan Plan B.
Hidup kok repot.

jalani saja, buat Plan A Plan B Plan C

02 July 2016

Ramadhan 1437 H

Dear Ramadhan,

Aku malu pada kedatanganmu yang tak bisa ku maksimalkan
Banyak waktu yg ku sia-siakan
10 hari pertama, aku sibuk dengan ujian kampus
10 hari kedua, masih sibuk dengan ujian
10 hari ketiga, aku sedikit menyibukkan waktuku untuk dirimu
Duhai ramadhan,
30 hari mengapa terlalu cepat berlalu
Singgahlah sebentar sebelum engkau pergi
Agar aku tak rindu akan kau tinggal pergi 11 bulan nanti
Terimakasih menjadi Ramadhan yg selalu indah
Ramadhan ke-20 ku

16 May 2016

Ibnu Sina, Dokter yang Berdzikir


dari buku kisah ashabul kahfi

Dunia Islam memang banyak melahirkan tokoh-tokoh brilian dan penuh kontroversi. Ibnu Sina (980-1037) adalah salah seorang tokoh Muslim terkemuka yang masuk kategori ini. Ia menulis 450 naskah sepanjang hidupnya. Dunia barat menghormati dan mengenalnya sebagai Avicenna. Menurut pengakuannya, ia berhasil menguasai hamper waktu yang paling singkat di antara disiplin ilmu yang ia pelajari. Usianya ketika itu baru 16 tahun dan banyak ahli kedokteran berguru kepadanya. Bukunya, Al-Qonnun Al-Tibbiyyah (Prinsip-prinsip kedokteran)- yang menjadi buku pegangan di Eropa sampai abad ke-17, diselesaikan saat baru berusia 20-an. Namun, jangan sangka ia menjadi salah seorang genius muslim par-excellence-yang tak tertandingi di dunia Barat dan Timu-tanpa kerja keras

Kerja kerasnya bahkan di luar yang kita bayangkan. Berikut penuturannya sendiri lewat salah seorang sahabat dekatnya, Abdul Abid Al-Juzjani, yang setia mendampinginya selama 25 tahun

“... Ketika aku mengalami kebingungan tentang suatu masalah dan tak menemukkan jalan tengah dalam analoginya, aku segera bergegas ke masjid untuk shalat dan memohon bimbingan kepada Sang Maha Pencipta semesta agar membuka semua yang terkunci dan memudahkan perkara yang sulit. Aku biasa pulang ke rumah malam hari dan meletakkan lampu di depanku, lalu membaca dan menulis. Jika rasa kantuk dan letih yang sangat menyerangku aku meminum ramuan untuk memulihkan kekuatan dan semangatku untuk melanjutkan membaca, Sering saat tertidur karena keletihan membaca, aku bermimpi tentang masalah-masalah yang aku baca dan menemukan pemecahan mereka justru dalam mimpi itu. Demikianlah sehingga aku menguasaai banyak ilmu karena usaha keras yang dibolehkan oleh batas-batas kemampuan manusiawi.

Apa-apa yang aku ketahui pada saat itu tidaklah akan bertambah saat ini sekiranya aku tidak mempelajari dan menguasai ilmu logika, ilmu alam, ilmu riyadhi, dal al-Ilaahi. Aku lalu membaca buku Metaphysic karya Aristoteles, tetapi sama sekali tak mampu memahami isi dan maksud pengarangnya. Karena penasaran, aku mengulangi membacanya sampai 40 kali hingga hafal di luar kepala. Namun, aku tetap saja tidak berhasil memahami kandungannya. Karena frustasi, aku sampai bergumam dalam hati, Tak ada jalan untuk bisa memahami buku ini (haadza al-kitaaab laa sabiila ilaa fahmih)

Suatu sore, ketika dating waktu asar, aku berkunjung ke sebuah toko buku dan tampak olehku sebuah buku. Penunggu took menunjukannya kepadaku dan kulihat secara sekilas dan berkeyakinan kalau buku itu tak berguna bagiku. Namun, si penunggu took bilang, ‘Buku ini murah, sebaiknya Anda beli’. Aku putuskan membelinya dan ternyata buku itu buah karya Abu Nasr Al Farabi yang mengomentari kita Metaphysic milik Aristoteles yang aku tak paham-paham isinya. Karena tak sabar ingin tahu isinya, aku segera pulang dan membaca habis buku itu dalam sehari, hari itu juga. Maka, saat itu juga terbukalah semua kepelikan yang aku temui dalam kitab itu karena aku memang telah hafal lafalnya di luar kepala. Oleh karena itu,  aku diliputi suka cita yang sangat dalam dan sebagai rasa syukurku kepada Allah SWT, aku memberikan sedekah yang banyak kepada para fakir miskin pada esok harinya”

Dari kisah diatas, kita bisa mengambil pelajaran bahwa kehebatan Ibnu Sina itu bukan saja karena kerja keras yang luar biasa, tetapi juga karena kealimannya untuk pergi ke masjid di saat merasa otaknya buntu, serta gemar bersedekah. Bahkan dikabarkan bahwa Ibnu Sina khatam membaca Al Qur’an setiap tiga hari sekali sampai ia wafat.