Pages

13 April 2018

Worth Man

Aku menulis ini dengan kesadaran di sekitar kampus. Mungkin agak mainstream tapi apalah aku cuma mahasiswa yang penghailan pas-pasan paling dapat uang dari nulis, masih bergantung dari bapak ibu kandung tiap bulan.
Agak awful ketika orang lain libur, diri ini masih berkutat dengan hal yg belum pasti.
Mungkin aku kurang bersyukur.

Karena muter-muter maka sekitar 30 menit yg lalu aku bertemu seorang lelaki, namanya Pak Dilah, penjual buah asal Karangsuno Rembangan, aku tidak tahu alamat pastinya, beliau bercerita. Banyak orang di sekitar posting tentang orang tapi aku salut karena beliau dengan pincang karena stroke mau jualan buah.
'Mbak, buah yang ini saja. Lebih banyak saya kasih 15 ribu'
Padahal rencananya mau beli yang lebih sedikit karena takut dibuang karena tidak ada yang makan.
Sepertinya bapak sudah hafal kebiasaan membeli buahku.
Suatu waktu aku pernah tanya
'Pak, gak ke RS aja? Biar diobati?'
'Ndak, saya gak suka di RS'
'Kapan2 saya main ke rumah ya pak'
'Iya, mbak' jawab beliau antusias.
'Cepat lulus jadi dokter ya mbak. Saya kerja begini biar jadi rizki yang halal gak begini' sambil menelungkupkan tangan.
Aku tidak mendapati ketersinggungan antara jadi dokter dan kesembuhan beliau yang tidak suka RS sebenarnya.
Semoga bapaknya selalu bahagia.

Pesan disini adalah
'Malu ketika tidak bersyukur. Padahal nikmat sehat dan waktu luang banyak. Seperti mendapat tamparan pribadi, semoga bisa segera menjadi obat dan dokter untuk pak Dilah. Terima kasih pak doa dan buahnya'

Aamiin

Double way unej, 14-4-2018 10:02

02 July 2016

Ramadhan 1437 H

Dear Ramadhan,

Aku malu pada kedatanganmu yang tak bisa ku maksimalkan
Banyak waktu yg ku sia-siakan
10 hari pertama, aku sibuk dengan ujian kampus
10 hari kedua, masih sibuk dengan ujian
10 hari ketiga, aku sedikit menyibukkan waktuku untuk dirimu
Duhai ramadhan,
30 hari mengapa terlalu cepat berlalu
Singgahlah sebentar sebelum engkau pergi
Agar aku tak rindu akan kau tinggal pergi 11 bulan nanti
Terimakasih menjadi Ramadhan yg selalu indah
Ramadhan ke-20 ku

16 May 2016

Ibnu Sina, Dokter yang Berdzikir


dari buku kisah ashabul kahfi

Dunia Islam memang banyak melahirkan tokoh-tokoh brilian dan penuh kontroversi. Ibnu Sina (980-1037) adalah salah seorang tokoh Muslim terkemuka yang masuk kategori ini. Ia menulis 450 naskah sepanjang hidupnya. Dunia barat menghormati dan mengenalnya sebagai Avicenna. Menurut pengakuannya, ia berhasil menguasai hampir waktu yang paling singkat di antara disiplin ilmu yang ia pelajari. Usianya ketika itu baru 16 tahun dan banyak ahli kedokteran berguru kepadanya. Bukunya, Al-Qonnun Al-Tibbiyyah (Prinsip-prinsip kedokteran) yang menjadi buku pegangan di Eropa sampai abad ke-17, diselesaikan saat baru berusia 20-an. Namun, jangan sangka ia menjadi salah seorang genius muslim excellence yang tak tertandingi di dunia Barat dan Timu-tanpa kerja keras

Kerja kerasnya bahkan di luar yang kita bayangkan. Berikut penuturannya sendiri lewat salah seorang sahabat dekatnya, Abdul Abid Al-Juzjani, yang setia mendampinginya selama 25 tahun

“... Ketika aku mengalami kebingungan tentang suatu masalah dan tak menemukkan jalan tengah dalam analoginya, aku segera bergegas ke masjid untuk shalat dan memohon bimbingan kepada Sang Maha Pencipta semesta agar membuka semua yang terkunci dan memudahkan perkara yang sulit. Aku biasa pulang ke rumah malam hari dan meletakkan lampu di depanku, lalu membaca dan menulis. Jika rasa kantuk dan letih yang sangat menyerangku aku meminum ramuan untuk memulihkan kekuatan dan semangatku untuk melanjutkan membaca, Sering saat tertidur karena keletihan membaca, aku bermimpi tentang masalah-masalah yang aku baca dan menemukan pemecahan mereka justru dalam mimpi itu. Demikianlah sehingga aku menguasaai banyak ilmu karena usaha keras yang dibolehkan oleh batas-batas kemampuan manusiawi.

Apa-apa yang aku ketahui pada saat itu tidaklah akan bertambah saat ini sekiranya aku tidak mempelajari dan menguasai ilmu logika, ilmu alam, ilmu riyadhi, dal al-Ilaahi. Aku lalu membaca buku Metaphysic karya Aristoteles, tetapi sama sekali tak mampu memahami isi dan maksud pengarangnya. Karena penasaran, aku mengulangi membacanya sampai 40 kali hingga hafal di luar kepala. Namun, aku tetap saja tidak berhasil memahami kandungannya. Karena frustasi, aku sampai bergumam dalam hati, 'Tak ada jalan untuk bisa memahami buku ini' (haadza al-kitaaab laa sabiila ilaa fahmih)

Suatu sore, ketika datang waktu asar, aku berkunjung ke sebuah toko buku dan tampak olehku sebuah buku. Penunggu toko menunjukannya kepadaku dan kulihat secara sekilas dan berkeyakinan kalau buku itu tak berguna bagiku. Namun, si penunggu toko bilang, ‘Buku ini murah, sebaiknya Anda beli’. Aku putuskan membelinya dan ternyata buku itu buah karya Abu Nasr Al Farabi yang mengomentari kitab Metaphysic milik Aristoteles yang aku tak paham-paham isinya. Karena tak sabar ingin tahu isinya, aku segera pulang dan membaca habis buku itu dalam sehari, hari itu juga. Maka, saat itu juga terbukalah semua kepelikan yang aku temui dalam kitab itu karena aku memang telah hafal lafalnya di luar kepala. Oleh karena itu,  aku diliputi suka cita yang sangat dalam dan sebagai rasa syukurku kepada Allah SWT, aku memberikan sedekah yang banyak kepada para fakir miskin pada esok harinya”

Dari kisah diatas, kita bisa mengambil pelajaran bahwa kehebatan Ibnu Sina itu bukan saja karena kerja keras yang luar biasa, tetapi juga karena kealimannya untuk pergi ke masjid di saat merasa otaknya buntu, serta gemar bersedekah. Bahkan dikabarkan bahwa Ibnu Sina khatam membaca Al Qur’an setiap tiga hari sekali sampai ia wafat.

06 November 2015

Penyakit Jantung Bawaan



A. Jantung normal B. Defek Septum Atrium C. Tetralogy Fallot
D. Patent ductus arteriosus E. Coarctation of the aorta
Sumber : Anatomi Klinis Snell




1.      Defek Septum Atrial
Kelainan Jantung bawaan akibat adanya lubang pada septum interatrial.
Pembagian berdasarkan letak lubang :
a.      Defek septum  atrium sekundum bila lubang terletak di daerah fossa ovalis
b.      Defek septum atrium primum bila lubang terletak di daerah ostium primum (termasuk defek septum atrioventrikular)
c.       Defek sinus venosus, bila lubang terletak di daerah sinus venosus dekat(dekat muara vena kava superior atau inferior)
Defek septum atrium sering ditemukan pada pemeriksaan rutin karena keluhan baru timbul pada dekade 2-3 dan bising yang terdengar tidak keras. Pada kasus dengan aliran pirau yang besar keluhan cepat lelah timbul lebih awal. 
Pemeriksaan Fisik 
Penderita defek septum atrium seringkali terlihat bentuk tubuh yang tinggi dan kurus, dengan jari-jari tangan dan kaki yang panjang. Aktivitas ventrikel kanan meningkat dan tak teraba thrill. Bunyi jantung kesatu mengeras, bunyi jantung kedua terpisah lebar, dan tak mengikuti variasi pernafasan (wide fixed split). Bila terjadi hipertensi pulmonal, komponen pulmonalbunyi jantung kedua mengeras dan pemisahan kedua komponen tidak lagi lebar. 
Terdengar bising sistolik ejeksi yang halus di sela iga II parasternal kiri. Bising mid diastolic terdengar di sela iga IV parasternal kiri, sifatnya menggerendang dan meningkat dengan inspiras. Bising terjadi akibat aliran darah melewati katup tricuspid yang berlebihan, pada defek yang besar dengan rasio aliran pirau interatrial lebih dari 2. 
Bising pansistolik regurgitasi mitral dapat terdengar di daerah apeks pada defek septum atrium primum dengan celah pada defek septum septum atrium sekundum yang disertai prolaps katup mitral. 
EKG 
Deviasi sumbu QRS ke kanan, hipertrofi ventrikel kanan, dan right bundle branch block (RBBB). Pemanjangan interval PR dan deviasi sumbu QRS ke kiri mengarah pada kemungkinan defek septum atrium primum. Bila sumbu gelombang P negatif, maka perlu dipikirkan defek sinus venosus. 
Foto toraks 
Kardiomegali akibat pembesaran atrium dan ventrikel kanan. Segmen pulmonal menonjol dan vaskularisasi paru meningkat (plethora). 
Pada kasus lanjut dengan hipertensi pulmonal, gambaran vaskularisasi paru mengurang di daerah tepi (pruned tree)Ekokardiografi 
Ekokardiografi M mode memperlihatkan dilatasi ventrikel kanan dan septum interventrikular yang bergerak paradox. Ekokardiografi 2 dimensi dapat memperlihatkan lokasi dan besarnya defek interatrial (pandangan subsifoid yang paling terpercaya). Prolaps katup mitral dan regurgitasi sering tampak pada defek septum atrium yang besar. 
Posisi katup mitral dan katup tricuspid sama tinggi pada defek septum atrium primum dan bila ada celah pada katup mitral juga dapat terlihat. 
Ekokardiografi Doppler memperlihatkan aliran interatrial yang terekam sampai dinding atrium kanan. Rasio aliran pulmonal terhadap aliran sistemik juga dapat dihitung. 
Ekokardiografi kontras dapat dikerjakan bila Doppler tak mampu memperlihatkan adanya aliran interatrial. 
Kateterisasi Jantung 
Kateterisasi jantung dilakukan bila defek interatrial pada ekokardgiografi tak jelas terlihat atau bila terjadi hipertensi pulmonal. 
Pada kateterisasi jantung terdapat peningkatan saturasi oksigen di atrium kanan dengan peningkatan ringan tekanan ventrikel kanan dan arteri pulmonalis. Bila telah terjadi penyakit vaskuler paru, tekanan arteri pulmonalis sangat meningkat sehingga perlu dilakukan tes dengan pemberian oksigen 100% untuk menilai reversibilitas vaskuler paru. 
Pada sindrom Eisenmenger, saturasi oksigen di atrium kiri menurun. 
Angiogram ventrikel kiri pada defek septum atrium sekundum tampak normal, tapi mungkin terlihat prolaps katup mitral yang disertai regurgitasi. 
Pada defek septum atrium primum, terlihat gambaran leher angsa (goose neck appearance), akibat posisi katup mitral yang abnormal
2.      Defek Septum Ventrikel
Kelainan jantung bawaan berupa lubang pada septum interventrikularis. Lubang tersebut hanya ada 1 atau lebih yaitu lebih (Swiss cheese VSD) yang terjadi akibat kegagalan fusi septum interventrikular semasa janin dalam kandungan.
Ada 3 macam defek septum ventrikel yaitu
1.      Defek perimembranous bila lubang terletak di daerah septum membranus
2.      Defek subarterial bila lubang terletak di daerah septum ifundibulum
3.      Defek muskuler bila lubang terletak di daerah septum muskuler inlet, otlet, dan trabekuler
 
Adanya lubang pada defek septum interventrikularis memungkinkan aliran dari ventrikel kiri ke ventrikel kanan, sehingga aliran darah yang ke paru bertambah. 
Pada usia pertama terutama 6 bulan pertama aliran pirau akan berubah-ubah sesuai dengan penurunan tahanan pembuluh darah paru akibat maturasi paru yang berlangsung cepat pada periode tersebut. Penurunan maksimal biasanya terjadi pada usia 1-6 minggu, tapi kadang-kadang baru terjadi pada usia 12 minggu. Aliran pirau dari kiri ke kanan akan bertambah dengan menurunya tahanan pembuluh paru, sehingga gagal jantung pada bayi dengan VSD yang besar biasana terjadi pada usia 2-3 bulan. 
Bila pirau kecil umumnya tidak menimbulkan keluhan, tetapi bila besar akan memberikan keluhan seperti kesulitan waktu minum atau makan karena cepat lelah atau sesak dan sering mengalami batuk serta infeksi saluran nafas berulang. Ini mengakibatkan pertumbuhan yang lambat. 
Dalam perjalanannya, beberapa tipe VSD dapat menutup spontan (tipe perimembranus dan muskuler) , terjadi hipertensi pulmonal, hipertrofi ifundibulum, atau prolaps katup aorta yang disertai regurgitasi (tipe subarterial dan perimembranous). 
Pemeriksaan fisik 
1.      Takipneu 
2.      Aktivitas ventrikel meningkat dan teraba thrill sistolik. 
3.      Komponen pulmonal bunyi jantung kedua mengeras bila telah terjadi hipertensi pulmonal. 
4.      Terdengar bising holosistolik yang keras di sela iga ke 3-4 parasternal kiri  yang menyebar sepanjang parasternal dan apeks. 
5.      Bising mid diastolik di katup mitral akibat aliran yang berlebihan. 
Foto toraks 
Kardiomegali akibat pembesaran atrium dan ventrikel kiri. 
Ekokardiografi 
Ekokardiogram M-Mode memperlihatkan dilatasi ventrikel kanan dan septum interventrikular yang bergerak paradoks. 
Posisi katup mitral dan tricuspid sama tinggi dengan pada defek septum atrium primum dan bila ada celah ada katup mitral juga dapat terlihat.



3.      Patent Ductus Arteriosus
Duktus Arteriosus adalah saluran yang berasal dari arkus aorta ke VI pada janin yang menghubungkan arteri pulmonalis dengan aorta desendens. Pada bayi normal duktus arteriosus akan menutup secara fungsional pada 10-15 jam setelah lahir dan secara anatomis mejadi ligamentum arteriosum pada usia 2-3 minggu. Bila tidak menutup maka disebut duktus arteriosus persistent (persistent ductus arteriosus)
Adanya PDA akan memungkinkan  aliran pirau dari kiri ke kanan (dari aorta ke arteri pulmonalis). Besarnya aliran tergantung pada ukuran PDA dan besarnya tahanan arteri pulmonalis.
Adanya aliran darah yang mengalir melalui arteri pulmonalis memungkinkan terjadinya hipertensi pulmonal dengan tahanan vaskuler paru yang tinggi. Sianosis bila telah terjadi penyakit vaskuler paru dimana aliran pirau berubah dari kanan ke kiri (Sindrom Eisenmenger).
Resiko terjadinya endokarditis infektif pada PDA sangat tinggi, terutama sesudah pertama.
Keluhan timbul bila aliran ke paru cukup besar sehingga penderita sering batuk, tampak lelah waktu minum susu, sesak napas, dan pertumbuhan fisik yang lambat.
Pemeriksaan fisik
Pernafasan cepat (takipneu) bila aliran pirau besar.
Sianosis pada kuku jari tangan kiri dan kedua kaki bila terjadi sindrom Eisenmenger.
Nadi perifer terasa menghentak akibat tekanan nadi (pulse pressure) yang besar
Terdengar bising kontinyu yang khas (machinary murmur) dan dapat teraba getaran di sela iga II kiri yang menjalar ke bawah klavikula kiri.
Bila terjadi hipertensi pulmonal, bunyi jantung kedua mengeras dan bising diastolic melemah atau menghilang.
Foto toraks
Tampak kardiomegali akibat pembesaran atrium dan ventrikel kiri. Aorta membesar dan arteri pulmonalis menonjol. Corakan vaskularisasi paru meningkat (plethora).
Bila terjadi hipertensi pulmonalis disertai perubahan vaskuler paru, maka corakan di  daerah tepi akan berkurang (pruned tree)
EKG
Hipertrofi atrium dan ventrikel kiri. Bila terjadi hipertensi pulmonal maka terlihat hipertrofi ventrikel kanan
Ekokardiografi
Pada M-Mode adanya dilatasi atrium dan ventrikel kiri serta gambaran ventrikel yang hiperdinamik.
Pada ekokardiografi 2 dimensi penampang sumbu panjang parasternal letak tinggi atau suprasternal dapat terlihat PDA dan dapat ditentukanbesar diameter.
Dengan ekokardiografi Doppler berwarna dapat ditentukan patensi dan aliran darah.
Kateterisasi jantung
Pada kateterisasi didapat kenaikan saturasi oksigen di arteri pulmonalis. Bila tekanan di arteri pulmonalis meninggi, perlu diulang pengukurannya dengan menutup PDA dengan kateter balon.
Angiografi ventrikel kiri dilakukan untuk mengevaluasi fungsinya dan melihat adanya defek septum ventrike atau kelainan yang tidak terdeteksi dengan pemeriksaan ekokardiografi
Tata Laksana
-          Operasi secepatnya jika dalam waktu 14-16 minggu untuk mencegah endokarditis infektif. Operasi berupa ligasi atau pemotongan PDA.
-          Pada neonatus usia 10 hari diberi indomentasin peroral dengan dosis 0,2 mg/kgBB/8 jam
-          Bila terjadi gagal jantung diberikan digitalis, diuretika, dan vasodilator.

Daftar Pustaka
Prinsip-Prinsip penyakit dalam. Harrison. EGC : 2012
Ismudiati, Lily, dkk. Buku Ajar Kardiologi. Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 2002


01 July 2015

Motivasi sekali

Repost dari web academia.edu



Dokter 
Rekan sejawat yang terhormat,
Jika Anda ingin menjadi dokter untuk bisa kaya raya, maka segeralah kemasi barang-barang Anda.Mungkin fakultas ekonomi lebih tepat untuk mendidik anda menjadi businessman bergelimang rupiah.

Daripada Anda harus mengorbankan pasien dan keluarga Anda sendiri demi mengejar kekayaan.

Jika Anda ingin menjadi dokter untuk mendapatkan kedudukan sosial tinggi di masyarakat, dipuja dan didewakan, maka silahkan kembali ke Mesir ribuan tahun yang lalu dan jadilah fir’aun di sana. Daripada Anda di sini harus menjadi arogan dan merendahkan orang lain di sekitar Anda hanya agar Anda terkesan paling berharga.

Jika Anda ingin menjadi dokter untuk memudahkan mencari jodoh atau menarik perhatian calon mertua, mungkin lebih baik Anda mencari agency selebritis yang akan mengorbitkan Anda sehingga menjadi artis pujaan para wanita. Daripada Anda bersembunyi di balik topeng klimis dan jas putih necis, sementara Anda alpa dari makna dokter yang sesungguhnya.

Dokter tidak diciptakan untuk itu, kawan.

Memilih menjadi dokter bukan sekadar agar bisa bergaya dengan BMW keluaran terbaru, bukan sekadar bisa terihat tampan dengan jas putih kebanggaan, bukan sekadar agar para tetangga terbungkuk-bungkuk hormat melihat kita lewat.

Memilih menjadi dokter adalah memilih jalan pengabdian.

Mengabdi pada masyarakat yang masih akrab dengan busung lapar dan gizi buruk. Mengabdi pada masyarakat yang masih sering mengunjungi dukun ketika anaknya demam tinggi.

Memilih menjadi dokter adalah memilih jalan empati, ketika dengan lembut kita merangkul dan menguatkan seorang bapak tua yang baru saja kehilangan anaknya karena malaria.
Memilih jalan menjadi dokter adalah memilih jalan kemanusiaan, ketika kita tergerak mengabdikan diri dalam tim medis penanggulangan bencana dengan bayaran cuma-cuma.

Memilih jalan menjadi dokter adalah memilih jalan kepedulian, saat kita terpaku dalam sujud-sujud panjang, mendoakan kesembuhan dan kebahagiaan pasien-pasien kita.

Memilih menjadi dokter adalah memilih jalan berbagi, ketika seorang tukang becak menangis di depan kita karena tidak punya uang untuk membayar biaya rumah sakit anaknya yang terkena demam berdarah. Lalu dengan senyum terindah yang pernah disaksikan dunia, kita menepuk bahunya dan berkata, “jangan menangis lagi, pak, Insya Allah saya bantu pembayarannya.”
Memilih menjadi dokter adalah memilih jalan kasih sayang, ketika dengan sepenuh cinta kita mengusap lembut rambut seorang anak dengan leukemia dan berbisik lembut di telinganya,”dik, mau diceritain dongeng nggak sama tante  dokter?
Memilih jalan menjadi dokter adalah memilih jalan ketegasan, ketika sebuah perusahaan farmasi menjanjikan komisi besar untuk target penjualan obat-obatnya, lalu dengan tetap tersenyum kita mantap berkata, “maaf, saya tidak mungkin mengkhianati pasien dan hati nurani saya”

Memilih menjadi dokter adalah memilih jalan pengorbanan, saat tengah malam tetangga dari kampung sebelah dengan panik mengetuk pintu rumah kita karena anaknya demam dan kejang-kejang. Lalu dengan ikhlas kita beranjak meninggalkan hangatnya peraduan menembus pekat dan dinginnya malam.

Memilih menjadi dokter adalah memilih jalan terjal lagi mendaki untuk meraih cita-cita kita.

Bukan, bukan kekayaan atau penghormatan manusia yang kita cari. Tapi ridha Allah lah yang senantiasa kita perjuangkan.
Yah,
memilih menjadi dokter adalah memilih jalan menuju surga, tempat di mana dokter sudah tidak lagi perlu ada…

NB :
Ini bukan provokasi untuk menjadi dokter miskin, bukan juga mengatakan bahwa dokter tidak perlu penghormatan atau hal-hal duniawi lainnya. Tulisan ini hanya sekadar sebuah nasihat untuk diri sendiri dan rekan sejawat semua untuk meluruskan kembali niat kita dalam menjadi seorang dokter. Karena setiap amalan tergantung pada niatnya.

Silakan menjadi kaya, silakan menjadi terhormat, asal jangan itu yang menjadi tujuan kita. Dokter terlalu rendah jika diniatkan hanya untuk keuntungan duniawi semata. Mungkin akan sangat susah untuk menggenggam erat idealisme ini nantinya.

Namun saya yakin, jika ada kemauan yang kuat dan niat yang tepat, idealisme ini akan terbawa sampai mati. Walaupun harus sendirian dalam memperjuangkannya, walaupun banyak yang mencemooh dan merendahkan. Saya yakin, Allah tidak akan pernah salah menilai setiap usaha dan perjuangan hamba-hamba-Nya. Tidak akan pernah.

Tulisan ini dibuat oleh :
Aditya Putra Priyahita, seorang yang sangat merindukan sebuah reuni anggota Ikatan Dokter Indonesia (IDI) di surga nanti