Pages

19 June 2018

If i had a chance

Tulisan ini saya dedikasikan untuk bude saya, yg mengajarkan banyak hal terutama menjadi dokter yg baik nantinya. Aamiin

Bude adalah sebutan untuk kakak perempuan dari bapak/ibu. Bude saya ini kakak ibu saya. Ibu anak ke-6 dan bude anak ke-5.

Bude saya selalu peduli dengan saya. Hal yang paling ingat adalah beliau tanya apakah saya diterima SNMPTN Undangan di FK.
Semua keluarga memang mendoakan saya untuk masuk kedokteran dengan jalur prestasi tersebut.

Di November 2017, bude saya didiagnosis terkena kanker stadium 4. Jika dirunut, kakek saya tidak meninggal karena kanker, nenek bahkan masih sehat sampai sekarang tinggal dengan ibu saya. Tapi bude memang sudah sering sakit di daerah perut sejak remaja. Saya sangat menyarankan anda dan pasien saya kelak untuk check-up rutin.

Keluarga berusaha agar bude bisa sembuh dengan dilakukan operasi kolostomi di RS Spesialis di Jawa Timur dan dilakukan kemoterapi. Bulan November-Februari keadaan memang membaik tapi Mei keadaan mulai memburuk dan akhirnya awal Juni bude pergi meninggalkan kami semua.

Saya tahu, umur memang titipan, semua yg ada di dunia ini memang akan berpulang tapi saya selalu menyesali kenapa saya sama sekali belum bisa membahagiakan bude saya di akhir hidupnya.
Saya sempat pulang ke Surabaya, menemani beliau 2 hari 2 malam dan akhirnya besoknya beliau berpulang tanpa mengijinkan saya menemani atau men-talqin karena saya harus kembali ke Jember.

Saya tahu semua orang pasti ingin yg terbaik untuk orang yg dicintainya, termasuk usaha saya untuk bude saya. Maka, saya mulai saat ini selalu ingin menjadi yg terbaik, memberikan apa yg saya punya untuk orang yg saya cintai dan sayangi, bagaimanapun keadaanya.
Semoga ini bisa menjadi renungan dan refleksi bahwa setiap diri kita dititipi satu keistimewaan, mungkin masuknya kita di Kedokteran untuk menyelamatkan nyawa orang2 hebat.

Terima kasih bude telah berjuang sejauh ini, terima kasih telah banyak mengajari arti hidup.
I'm glad that you rest in peace, i love you 😭

07 May 2018

Ikhlas

Mungkin ini sedikit jawaban atas doa selama beberapa hari ini. Awal mei ini, ibu dan bapak sering menanyakan kapan pulang untuk merawat mereka yg sedang tidak baik-baik dalam fisik.
Karena sebuah hal mengharuskan naik bus yg jarang sekali.
Pagi itu memang luar biasa. Bertemu dengan orang luar biasa. Hari ini bertemu dgn seseorang. Beliau menceritakan anaknya dengan segala problematika anak muda.
Seorang yg percaya jika puasa itu sehat dan tahajud itu kunci kehidupan.
Agak sedikit tersindir dan menancap, kata beliau.
'Hidup ini dijalani saja, anak saya daftar kuliah s2 5 kali di jurusan yang dia inginkan. Eh keterimanya di jurusan yg saya doakan, kok untungnya dia ikhlas menjalani'

Langsung sadar dan mau bilang
'Mungkin kesakitan, ujian, kesedihan ini karena bapak ibu belum sepenuhnya rela. Belum sepenuhnya menerima dan mengikhlaskan. Selama 22 tahun ini doa bapak memang selalu menjadi kekuatan terbesar. Semoga adek bisa membahagiakan bapak ibu dgn apapun pilihan-Nya'

13 April 2018

Worth Man

Aku menulis ini dengan kesadaran di sekitar kampus. Mungkin agak mainstream tapi apalah aku cuma mahasiswa yang penghailan pas-pasan paling dapat uang dari nulis, masih bergantung dari bapak ibu kandung tiap bulan.
Agak awful ketika orang lain libur, diri ini masih berkutat dengan hal yg belum pasti.
Mungkin aku kurang bersyukur.

Karena muter-muter maka sekitar 30 menit yg lalu aku bertemu seorang lelaki, namanya Pak Dilah, penjual buah asal Karangsuno Rembangan, aku tidak tahu alamat pastinya, beliau bercerita. Banyak orang di sekitar posting tentang orang tapi aku salut karena beliau dengan pincang karena stroke mau jualan buah.
'Mbak, buah yang ini saja. Lebih banyak saya kasih 15 ribu'
Padahal rencananya mau beli yang lebih sedikit karena takut dibuang karena tidak ada yang makan.
Sepertinya bapak sudah hafal kebiasaan membeli buahku.
Suatu waktu aku pernah tanya
'Pak, gak ke RS aja? Biar diobati?'
'Ndak, saya gak suka di RS'
'Kapan2 saya main ke rumah ya pak'
'Iya, mbak' jawab beliau antusias.
'Cepat lulus jadi dokter ya mbak. Saya kerja begini biar jadi rizki yang halal gak begini' sambil menelungkupkan tangan.
Aku tidak mendapati ketersinggungan antara jadi dokter dan kesembuhan beliau yang tidak suka RS sebenarnya.
Semoga bapaknya selalu bahagia.

Pesan disini adalah
'Malu ketika tidak bersyukur. Padahal nikmat sehat dan waktu luang banyak. Seperti mendapat tamparan pribadi, semoga bisa segera menjadi obat dan dokter untuk pak Dilah. Terima kasih pak doa dan buahnya'

Aamiin

Double way unej, 14-4-2018 10:02

02 July 2016

Ramadhan 1437 H

Dear Ramadhan,

Aku malu pada kedatanganmu yang tak bisa ku maksimalkan
Banyak waktu yg ku sia-siakan
10 hari pertama, aku sibuk dengan ujian kampus
10 hari kedua, masih sibuk dengan ujian
10 hari ketiga, aku sedikit menyibukkan waktuku untuk dirimu
Duhai ramadhan,
30 hari mengapa terlalu cepat berlalu
Singgahlah sebentar sebelum engkau pergi
Agar aku tak rindu akan kau tinggal pergi 11 bulan nanti
Terimakasih menjadi Ramadhan yg selalu indah
Ramadhan ke-20 ku

16 May 2016

Ibnu Sina, Dokter yang Berdzikir


dari buku kisah ashabul kahfi

Dunia Islam memang banyak melahirkan tokoh-tokoh brilian dan penuh kontroversi. Ibnu Sina (980-1037) adalah salah seorang tokoh Muslim terkemuka yang masuk kategori ini. Ia menulis 450 naskah sepanjang hidupnya. Dunia barat menghormati dan mengenalnya sebagai Avicenna. Menurut pengakuannya, ia berhasil menguasai hampir waktu yang paling singkat di antara disiplin ilmu yang ia pelajari. Usianya ketika itu baru 16 tahun dan banyak ahli kedokteran berguru kepadanya. Bukunya, Al-Qonnun Al-Tibbiyyah (Prinsip-prinsip kedokteran) yang menjadi buku pegangan di Eropa sampai abad ke-17, diselesaikan saat baru berusia 20-an. Namun, jangan sangka ia menjadi salah seorang genius muslim excellence yang tak tertandingi di dunia Barat dan Timu-tanpa kerja keras

Kerja kerasnya bahkan di luar yang kita bayangkan. Berikut penuturannya sendiri lewat salah seorang sahabat dekatnya, Abdul Abid Al-Juzjani, yang setia mendampinginya selama 25 tahun

“... Ketika aku mengalami kebingungan tentang suatu masalah dan tak menemukkan jalan tengah dalam analoginya, aku segera bergegas ke masjid untuk shalat dan memohon bimbingan kepada Sang Maha Pencipta semesta agar membuka semua yang terkunci dan memudahkan perkara yang sulit. Aku biasa pulang ke rumah malam hari dan meletakkan lampu di depanku, lalu membaca dan menulis. Jika rasa kantuk dan letih yang sangat menyerangku aku meminum ramuan untuk memulihkan kekuatan dan semangatku untuk melanjutkan membaca, Sering saat tertidur karena keletihan membaca, aku bermimpi tentang masalah-masalah yang aku baca dan menemukan pemecahan mereka justru dalam mimpi itu. Demikianlah sehingga aku menguasaai banyak ilmu karena usaha keras yang dibolehkan oleh batas-batas kemampuan manusiawi.

Apa-apa yang aku ketahui pada saat itu tidaklah akan bertambah saat ini sekiranya aku tidak mempelajari dan menguasai ilmu logika, ilmu alam, ilmu riyadhi, dal al-Ilaahi. Aku lalu membaca buku Metaphysic karya Aristoteles, tetapi sama sekali tak mampu memahami isi dan maksud pengarangnya. Karena penasaran, aku mengulangi membacanya sampai 40 kali hingga hafal di luar kepala. Namun, aku tetap saja tidak berhasil memahami kandungannya. Karena frustasi, aku sampai bergumam dalam hati, 'Tak ada jalan untuk bisa memahami buku ini' (haadza al-kitaaab laa sabiila ilaa fahmih)

Suatu sore, ketika datang waktu asar, aku berkunjung ke sebuah toko buku dan tampak olehku sebuah buku. Penunggu toko menunjukannya kepadaku dan kulihat secara sekilas dan berkeyakinan kalau buku itu tak berguna bagiku. Namun, si penunggu toko bilang, ‘Buku ini murah, sebaiknya Anda beli’. Aku putuskan membelinya dan ternyata buku itu buah karya Abu Nasr Al Farabi yang mengomentari kitab Metaphysic milik Aristoteles yang aku tak paham-paham isinya. Karena tak sabar ingin tahu isinya, aku segera pulang dan membaca habis buku itu dalam sehari, hari itu juga. Maka, saat itu juga terbukalah semua kepelikan yang aku temui dalam kitab itu karena aku memang telah hafal lafalnya di luar kepala. Oleh karena itu,  aku diliputi suka cita yang sangat dalam dan sebagai rasa syukurku kepada Allah SWT, aku memberikan sedekah yang banyak kepada para fakir miskin pada esok harinya”

Dari kisah diatas, kita bisa mengambil pelajaran bahwa kehebatan Ibnu Sina itu bukan saja karena kerja keras yang luar biasa, tetapi juga karena kealimannya untuk pergi ke masjid di saat merasa otaknya buntu, serta gemar bersedekah. Bahkan dikabarkan bahwa Ibnu Sina khatam membaca Al Qur’an setiap tiga hari sekali sampai ia wafat.